TVRINews, Sorong
Papeda Summit 2026 resmi dibuka di Gedung Lambertus Jitmau, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Rabu, 2 September 2026. Forum bertajuk Papua Action for Development, Economy, and Sustainable Nature (PAPEDA) ini menjadi ruang kolaborasi multipihak untuk memperkuat pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.
Pembukaan forum diawali prosesi penyambutan adat Suku Moi terhadap Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Zulkifli Hasan, Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu, serta para tamu undangan dari berbagai daerah dan negara.
Tarian penyambutan Suku Moi menjadi simbol penghormatan kepada para tamu yang datang ke Tanah Malamoi. Dalam prosesi tersebut, para penari turut mempersembahkan Kwok atau noken dalam bahasa Moi. Secara tradisional, Kwok digunakan sebagai wadah untuk menyimpan pangan maupun dokumen yang berkaitan dengan budaya.
Ketua Dewan Adat Suku Besar Moi, Paulus Safisa, mengatakan, prosesi penyambutan tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat Moi untuk menghormati tamu sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain tarian Suku Moi, pembukaan Papeda Summit 2026 juga dimeriahkan pertunjukan budaya dari Kabupaten Maybrat.
Papeda Summit 2026 digelar pada 2–4 September 2026 oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama lebih dari 50 organisasi masyarakat sipil dan mitra pembangunan.
Forum ini diikuti sekitar 1.030 peserta yang berasal dari enam provinsi di Tanah Papua, kementerian, delegasi kedutaan, organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Mengusung tema "Celebrating Papua Action for People, Environment, and Sustainable Development", Papeda Summit menjadi ruang bersama untuk memperkuat arah pembangunan Papua dengan menempatkan manusia, alam, dan budaya sebagai fondasi utama.
Forum ini lahir dari rangkaian pertemuan para gubernur di Manokwari dan Timika, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan lebih dari 50 organisasi masyarakat sipil di Jayapura pada Maret 2026. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membangun platform kolaboratif yang mendorong transformasi menuju ekonomi yang lebih regeneratif di Tanah Papua.
Penyelenggaraan Papeda Summit juga dilatarbelakangi posisi strategis Tanah Papua sebagai salah satu bentang ekosistem utuh terbesar di Indonesia. Tanah Papua tercatat memiliki sekitar 34,2 juta hektare hutan primer, 1,6 juta hektare mangrove, serta ratusan komunitas masyarakat adat yang menggunakan lebih dari 300 bahasa.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu menegaskan, forum tersebut harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat Papua. Salah satunya dengan mempercepat pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat, terutama yang berkaitan dengan wilayah dan tanah adat.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan menekankan pentingnya memberikan ruang yang lebih kuat kepada masyarakat adat dalam proses pembangunan di Papua.
"Masyarakat adat harus memperoleh manfaat langsung dari pembangunan sekaligus memiliki kepercayaan untuk menentukan arah pembangunan di wilayahnya," Zulkifli Hasan, Rabu, 2 September 2026.
Selama tiga hari pelaksanaan, Papeda Summit 2026 menghadirkan lima sesi pleno, 15 sesi paralel, serta sekitar 100 pembicara dan moderator dari berbagai unsur. Forum tersebut juga dilengkapi Papeda Expo yang menampilkan berbagai praktik baik dari Tanah Papua.
Selain itu, peserta akan mengikuti kunjungan lapangan ke kawasan hutan adat, ekowisata, serta berbagai inisiatif pembangunan berbasis komunitas.









